Mengenal Blockchain: Pengertian dan Cara Kerjanya

3 min read

Blockchain adalah

Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana transaksi antar uang kripto berjalan sehingga ia aman digunakan sebagai alat transaksi maupun investasi?

Ternyata hal tersebut karena sistem bernama blockchain atau rantai blok.

Dan selain digunakan dalam sistem transaksi uang kripto, blockchain dapat dimanfaatkan untuk mempermudah urusan lainnya lho!

Untuk mengetahuinya langsung saja kita simak bersama artikel di bawah ini untuk penjelasan selengkapnya!

Apa Itu Blockchain?

blockchain adalah
Sumber: Freepik/ rawpixel.com

Blockchain adalah buku besar yang digunakan untuk merekam setiap transaksi digital tanpa bantuan pihak ketiga untuk proses validasi.

Teknologi buku besar digital ini dapat menyimpan data lengkap dengan sistem yang sangat sulit untuk diubah.

Strukturnya terdiri dari catatan-catatan individu, disebut block, yang dihubungkan ke dalam satu daftar oleh chain

Buku besar digital ini dipegang oleh banyak entitas dan terbuka untuk  publik, sehingga tidak ada satupun otoritas yang memiliki kendali penuh. 

Faktor tersebut membuat blockchain hampir tidak mungkin untuk diretas.

Walaupun tujuan utama Blockchain diciptakan adalah untuk mencatat setiap pembuatan dan transaksi Bitcoin, kini teknologi Blockchain juga banyak dimanfaatkan oleh perusahaan.

Perusahaan menggunakan teknologi blockchain untuk mengelola informasi, melacak pengiriman barang, melacak transaksi keuangan, pemungutan suara, mencatat kepemilikan saham, dan lain sebagainya.

Contoh perusahaan yang menerapkan teknologi blockchain adalah Spotify.

Spotify ingin mengembangkan sistem yang bisa melacak berbagai hal terkait dengan proses penciptaan lagu dan proses pendistribusian royalti musik secara tepat menggunakan blockchain .

Maka pada bulan April 2017, perusahaan audio streaming asal Swedia ini mengakuisisi Mediachain Labs. 

Sejarah Singkat Blockchain 

Blockchain adalah
Sumber: Freepik/ macrovector_official

Blockchain diciptakan bersamaan dengan Bitcoin oleh seseorang (atau mungkin sekelompok orang) yang sampai saat ini belum diketahui identitas aslinya.

Mereka menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto. 

Kendati demikian, cikal bakal blockchain sebenarnya telah dicetuskan sejak tahun 

1979 oleh Ilmuwan Komputer Ralph Markle.

Markle menciptakan teknologi bernama Markle Tree tentang pendekatan distribusi public key dan digital signature yang dinamakan “tree authentication”.

Merkle Tree pada akhirnya menyediakan struktur data untuk memverifikasi setiap individual records. 

Kemudian, pada tahun 1991 Stuart Haber dan W. Scott Stornetta mempublikasikan Journal of Cryptography: How to Time-stamp a Digital Document.  

Jurnal ilmiah tersebut memaparkan bagaimana chainblock diamankan secara kriptografis untuk mencegah agar user tidak dapat menghapus maupun mengubah tanggal pada suatu dokumen digital. 

Pada tahun 1992, Haber dan Stornetta memadukan teknologi Time-stamp dengan Markle Tree yang memungkinkan beberapa sertifikat dokumen untuk berada dalam sebuah block.

Menyusul kemudian pada tahun 1998, Ilmuwan Komputer bernama Nick Szabo melakukan penelitian yang menghasilkan Bit Gold.

Bit Gold adalah uang digital terdesentralisasi pertama yang dianggap sebagai dasar arsitektur Bitcoin.

Selanjutnya, Stefan Kons mempublikasikan teorinya tentang cryptographic secured chains dan contoh implementasinya pada tahun 2000. 

Berbagai teknologi dan konsep di atas kemudian digunakan untuk membentuk arsitektur blockchain oleh suatu pihak dengan nama Satoshi Nakamoto. 

Nakamoto mempublikasikan white paper berjudul A Peer-to-Peer Electronic Cash System pada tahun 2008. 

White paper tersebut memberikan penjelasan resmi tentang konsep dibalik bitcoin dan blockchain.

Dijelaskan bahwa blockchain akan mendukung transaksi P2P (peer-to-peer) yang aman tanpa harus melewati proses verifikasi dari pihak ketiga yang dianggap dapat dipercaya seperti bank atau pemerintah.

Konsep bitcoin dan blockchain yang dirilis oleh Nakamoto tersebut akhirnya direalisasikan pada tahun 2009. 

Hal tersebut ditandai dengan peluncuran blok pertama dari blockchain yang diberi nama Genesis Block of Bitcoin atau Block Number 0

Pada tahun 2014, teknologi blockchain mulai dikembangakan secara terpisah dari cryptocurrency karena potensinya untuk digunakan pada berbagai bidang lain. 

Maka, lahirlah Blockchain 2.0.  

Cara Kerja Blockchain

Cara Kerja
Sumber: Freepik/ vectorjuice

Setelah mengetahui pengertian dan sejarah tentang blockchain, mari kita pahami bersama bagaimana cara kerjanya.

Secara sederhana, sistem blockchain terdiri atas blok ledger yang berisikan rangkaian hash cryptography dan hash dari blok sebelumnya.

Hash cryptography berfungsi untuk mengambil data dari blok asal dan mengubahnya menjadi compact string

String inilah yang menjadi alarm pendeteksi jika ada potensi sabotase.

Berikut tahapan-tahapan yang harus dilalui agar sebuah blok dapat masuk ke dalam jaringan blockchain:

1. Transaksi

Blockchain sendiri dimulai ketika terjadi transaksi dan sebuah blok menerima data baru. 

2. Verifikasi dan Approval

Setelah data terverifikasi, blok akan melakukan approval dan menyimpan data tersebut.

3. Hashing

Hash adalah algoritma yang digunakan untuk mengubah data yang dimasukkan menjadi kode unik melalui proses enkripsi.

Data yang sudah terenkripsi melalui fungsi hash tidak bisa Anda ubah-ubah lagi.

Hal tersebut membuat hash dikenal juga sebagai One Way Function Encryption atau Fungsi Enkripsi Satu Arah.

Fungsi inilah yang membuat sistem blockchain sangat aman dari tindakan peretasan.

Hashing adalah proses pemberian hash pada data yang telah mendapat approval. 

Data akan dipetakan oleh fungsi hash dari berbagai ukuran ke dalam string bit.

Setelah mendapatkan hash, blok tersebut masuk ke dalam jaringan blockchain dan dapat dilihat oleh publik.

Baca juga: NFC pada Smartphone: Semua Jadi Lebih Praktis!

Pemanfaatan Blockchain di Indonesia

Blockchain adalah
Sumber: Freepik/ fatmawatilauda

Untuk di Indonesia sendiri Blockchain telah diaplikasikan di berbagai bidang.

Dalam bidang perbankan, salah satu penggunanya adalah PT Bank Central Asia TBK (Bank BCA) 

Bank BCA telah menerapkan blockchain secara internal untuk mempercepat transaksi pembayaran dan mengurangi kompleksnya transaksi dalam lingkup back office.

Sedangkan ditingkat BUMN ada PT Pos Indonesia yang sudah mengadopsi blockchain untuk mengembangkan layanan giro bernama Digiro.in.

Penyedia aplikasi perpajakan pun telah mengadopsi blockchain untuk mengembangkan aplikasi OnlinePajak.

Penutup

Jadi bisa kita simpulkan bahwa blockchain adalah teknologi yang memiliki keamanan tingkat tinggi.

Ada tiga pilar utama yang membuat teknologi blockchain sangat aman dan dapat dipercaya yaitu sifatnya yang desentralisasi, transparan, dan permanen.

Apakah Anda tertarik untuk menerapkannya dalam bisnis Anda?

Sekian artikel tentang blockchain kali ini, semoga menambah wawasan Anda.

Jangan lupa berlangganan newsletter dari Aksara Data Digital – Platform Reseller Registrasi Domain untuk mendapatkan update info menarik lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *